"Sesungguhnya orang-orang yg beriman itu adalah mereka yg apabila disebut Allah gementarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kpd mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka kerananya dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal."(AlAnfaal: 2)

I made this widget at MyFlashFetish.com.

Jom ingat Asma Allah


Halwa Telinga

titipan sabar buat tauladan  

Posted by: aini-mawaddah




Abu Abdillah atau Urwah bin Zubair bin Al-Awwam adalah di antara sederet tabiin yang memiliki kucuran mata air hikmah untuk generasi umat sesudah beliau. Adik dari Abdullah bin Zubair ini memberikakan pelajaran tentang nilai sebuah kesabaran.

Suatu hari cucu Abu Bakar Ash-shiddiq ini mendapat tugas untuk menemui khalifah Al-Walid bin ‘Abdil Malik di ibukota kekhalifahan, yaitu Damaskus di negeri Syam. Bersama dengan rombongan, ‘Urwah akan menempuh perjalanan dari Madinah menuju Damaskus yang saat ini menjadi negara Yordania.

Ketika melewati Wadil Qura, sebuah daerah yang belum jauh dari Madinah, telapak kaki kiri beliau terluka. Tabiin yang lahir pada tahun 23 Hijriyah ini menganggap biasa lukanya. Ternyata, luka tersebut menanah dan terus menjalar ke bagian atas kaki Urwah.

Setibanya di istana Al-Walid, luka di kaki kiri Urwah tersebut sudah mulai membusuk hingga betis. Urwah pun mendapatkan pertolongan dari Khalifah Al-Walid yang memerintahkan sejumlah dokter untuk memberikan perawatan.

Setelah melalui beberapa pemeriksaan, para dokter yang memeriksa salah seorang murid dari Aisyah binti Abu Bakar ini mempunyai satu kesimpulan. Kaki kiri Urwah harus diamputasi, agar luka yang membusuk tidak terus menjalar ke tubuh.

Urwah menerima keputusan tim dokter ini. Dan dimulailah operasi amputasi. Seorang dokter menyuguhkan Urwah semacam obat bius agar operasi amputasi tidak terasa sakit. Saat itu, Urwah menolak dengan halus.

Beliau mengatakan, “Aku tidak akan meminum suatu obat yang menghilangkan akalku sehingga aku tidak lagi mengenal Allah, walaupun untuk sesaat.”

Mendengar itu, para dokter pun menjadi ragu untuk melakukan amputasi. Saat itu juga, Urwah mengatakan, “Silakan kalian potong kakiku. Selama kalian melakukan operasi, aku akan shalat agar sakitnya tidak sempat kurasakan.”

Mulailah tim dokter memotong kaki Urwah dengan gergaji. Selama proses operasi itu, tabiin yang bisa mengkhatamkan Alquran selama dua hari ini tampak khusyuk dan tegar. Tidak sedikit pun suara rintihan keluar dari mulut beliau.

Melihat pengalaman yang tidak mengenakkan dari seorang cucu sahabat terkenal itu, khalifah Al-Walid menghampiri Urwah yang masih terbaring. Ia mencoba untuk menghibur.
Tapi, dengan senyum Urwah mengucapkan sebuah kalimat, “Ya Allah, segala puji hanya untuk-Mu. Sebelum ini, aku memiliki dua kaki dan dua tangan, kemudian Engkau ambil satu. Alhamdulillah, Engkau masih menyisakan yang lain. Dan walaupun Engkau telah memberikan musibah kepadaku namun masa sehatku masih lebih panjang hari-hari sakit ini. Segala puji hanya untuk-Mu atas apa yang telah Engkau ambil, dan atas apa yang telah Engkau berikan kepadaku dari masa sehat.”

Mendengar itu, Khalifah Al-Walid bereaksi, “Belum pernah sekali pun aku melihat seorang tokoh yang kesabarannya seperti dia.”

Beberapa saat setelah itu, tim dokter memperlihatkan potongan kaki yang diamputasi itu kepada Urwah. Melihat potongan kakinya, beliau mengatakan, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui, tidak pernah sekalipun aku melangkahkan kakiku itu ke arah kemaksiatan.”

Ujian yang Allah berikan kepada Urwah tidak sampai di situ. Malam itu juga, bersamaan dengan telah selesainya operasi pemotongan kaki, Urwah mendapat kabar bahwa salah seorang putra beliau yang bernama Muhammad -putra kesayangannya- meninggal dunia. Muhammad meninggal karena sebuah kecelakaan: ditendang oleh kuda sewaktu sedang bermain-main di dalam kandang kuda.

Dalam keheningan malam itu, Urwah berucap pada dirinya sendiri, “Segala puji hanya milik Allah, dahulu aku memiliki tujuh orang anak, kemudian Engkau ambil satu dan masih Kau sisakan enam. Walaupun Engkau telah memberikan musibah kepadaku, hari-hari sehatku masih lebih panjang dari masa pembaringan ini. Dan walaupun Engkau telah mengambil salah seorang anakku, sesungguhnya Engkau masih menyisakan enam yang lain.”

Kedekatan Urwah bin Zubair dengan doa kepada Allah memang sudah menjadi karakter dalam kehidupnya. Suatu kali, ia pernah mendapati seorang yang shalat kemudian berdoa dengan tampak tergesa-gesa .

‘Urwah memberi nasihat kepada orang itu, “Wahai saudaraku, tidakkah engkau memiliki kebutuhan kepada Rabb-mu dalam shalatmu? Adapun aku, aku selalu meminta sesuatu kepada Allah, hingga jika aku menginginkan garam sekalipun.”

Selain doa, Urwah pun begitu dekat dengan Alquran. Sudah menjadi kebiasaan putera Asma bintu Abu Bakar ini membaca seperempat Alquran di siang hari, kemudian membaca seperempatnya lagi di saat shalat malam. Kebiasaan berlama-lama dalam shalat malam ini terus dilakukan hingga operasi amputasi yang ia alami. Karena sejak itu, ia tidak lagi bisa berdiri seperti sebelumnya.

Walaupun ketika ia melakoni di antara kesibukannya di sebuah kebun, Urwah selalu dekat dengan Alquran. Setiap kali masuk kebun, ia selalu membaca surah Al-Kahfi ayat 39.

Allah berfirman,

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاء اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِن تُرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالًا وَوَلَدًا

Dan Mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu ‘Maa syaa Allaah, laa quwwata illaa billaah’ (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap Aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (Al Kahfi: 39)

Seperti itulah di anta hikmah yang diajarkan Urwah bin Zubair. Sabar dan yakin terhadap ayat-ayat-Nya, merupakan kunci sukses seseorang meraih kepemimpinan di dalam agama ini. Sebuah kepemimpinan dalam mengarahkan umat kepada jalan yang lurus sesuai dengan rambu-rambu agama yang telah digariskan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. ( eramuslim)

Betapa tinggi kesabaran yg diiliki oleh beliau...ya tidak pernah mengeluh walau sepatah, tidak pernah menyalahkan sesiapa...sungguh tinggi pekertinya...tidak mahu sesaat pn dalam keadaan melupakan Allah...cintanya pada Allah sungguh mulia...dibuktikan dengan betapa khusyuk solatnya...Urwah bin zubair antara tokoh fuqaha As sab'ah dan yg antara awal memeluk islam...semoga kita dapat mencontohi pekerti beliau dan menjadikannya sbg motivasi utk kita lebih tegar menghadapi musibah...=)


( keheningan pagi Sabtu, 12 sya'ban


ayuh kita laksanakan amanah ini sahabat  

Posted by: aini-mawaddah


saya menyadari dalam menjalankan amanah banyak sekali kekurangan,
tapi mudah-mudahan itu bukan karena kemalasan saya
dan bukan pula karena ketidakkomitmenan saya terhadap jalan ini
kepada Allah saya memohon ampunan atas segala kekhilafan dan kelalaian saya

saya merasa sangat bahagia karena dapat berada bersama sahabat2 saya dalam jalan ini
jazaakumullah khairan katsir kepada semua sahabat2 saya
saya mohon maaf kalau dalam berinteraksi dengan akhwat semua
banyak khilaf yang saya lakukan

mari kita bahu membahu menjalankan amanah dakwah ini...
cukuplah Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min yang melihat perbuatan kita

Ya Allah...berikanlah kepada kami keikhlasan hati kami dalam menjalankan amanah ini
Ya allah...Ya Rabbanaa, janganlah engkau siksa kami ketika kami lupa ya Allah

keteladanan seorang murabbi  

Posted by: aini-mawaddah

Bismillah walhamdulillah..
Pernahkah Anda mengalami suatu saat ketika Anda membuka mushaf dan Anda mulai membaca Al-Qur’an kemudian anak-anak Anda datang mendekati Anda sambil membawa buku Iqra’nya lalu mereka melakukan hal yang sama seperti apa yang tengah anda lakukan? Pernahkah Anda mendapatkan mutarabbi (objek dakwah/peserta didik/murid) Anda mengerjakan shaum (puasa) sunnah padahal Anda secara eksplisit tidah pernah menyuruhnya? Hal tersebut dilakukan oleh mutarabbi Anda hanya karena ia mendapatkan Anda juga melakukan shaum sunnah pada hari-hari sebelumnya, itulah buah dari keteladanan.

Ketealadanan adalah cara berdakwah yang paling hemat, bahkan bahasa keteladanaan jauh lebih fasih dari bahasa perintah dan larangan sebagaimaana pepatah mengatakan: “Lisaanul hal afshahu min lisaaanil maqaaal”, bahasa kerja lebih fasih dari bahasa kata-kata. Dalam ungkapan lain keteladanan ibarat tonggak, dimana bayangan akan mengikuti secara alamiah sesuai dengan keaadaan tonggak tersebut, lurusnya, bengkoknya, miringnya, tegaknya. Benarlah pepatah ini: “Kaifa yastaqqimudzdzhillu wal ‘uudu a’waj”, bagaimana bayangan akan lurus bila tonggaknya bengkok.

Oleh karena itu, penting bagi para murabbi (dai/pendidik/guru/orang tua) untuk berusaha semaksimal mungkin menjadi figur murabbi teladan agar keteladanaannya memberi keberkahan bagi perkembangan dakwah dan peningkatan kualitas maupun kuantitas para mutarabbi yang mereka bina. Perhatikanlah kehidupan pendidik ummat Rasulullah saw. Telusuri keteladanan figur murabbi pada diri sahaabatnya, para tabi’in, dan ulama salaafussalih. Kita sungguh tidak ada apa-apanya dibanding mereka.. Tetapi kita dinasihati oleh satu pepatah: tasyabbahu in lam takuunuu mislahum, Innattasyabbuha bil kiraami falaahun, teladanilah meski tidak sama persis dengan mereka, sesungguhnya meneladanani orang-orang mulia adalah satu keberuntungan.

Keteladanan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

Sebagai murabbi Rasulullah saw. selalu melakukan pendekatan komunikasi sebagaimana yang direkomendasikan Al-Qur’anm yaitu qaulan layyinan (Thaha: 44), qaulan maysuran (Al-Isra’: 28), qaulan ma’rufan (As-Sajdah: 32), qaulan balighan (An-Nisa’: 63), qaulan sadidan (An-Nisa’: 9), dan qaulan kariman (Al-Ahzab: 31).

Rasulullah tidak pernah menjaga jarak dengan mutarabbinya. Sehingga tidak terjadi kesenjangan psikologis antara mutarabbi dengan murabbi. Hal ini dapat dilihat dari dialog lepas antara Jabir bin Abdillah dengan Rasulullah saw. “Aku pernah keluar bersama Rasulullah saw. pada peperangan Dzatirriqa’. Aku mengendarai seekor onta yang lamban jalannya sehingga aku tertinggal jauh dari Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw. menemuiku seraya berkata, “Kenapa engkau, hai Jabir? ” “Ontaku, ya Rasulallah, jalannya lamban sekali,” balasku. Kemudian Rasulullah berkata lagi, “Berikan kepadaku tongkat yang ada di tanganmu atau berikan aku sepotong kayu.” Aku berikan kepadanya dan beliau pun memukulkan kayu tersebut secara perlahan ke onta saya. Lalu beliau menyuruhku menaiki onta itu. Demi Allah, tiba-tiba ontaku berjalan dengan sangat cepat, kemudian obrolan berlanjut. Rasulullah saw. bertanya kepadaku, “Hai Jabir, apakah engkau sudah kawin?” “Sudah, ya Rasulallah,” jawabku. “Dengan janda atau gadis?” tanya beliau lagi. “Dengan janda, ya Rasul,” tegasku. “Kenapa tidak dengan gadis saja sehingga engkau dapat bersenang-senang dengannya dan ia dapat bersenang-senang denganmu?” balas Rasulullah saw. dengan nada bertanya. Lalu aku menjelaskan, “Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku meninggal pada Perang Uhud dan meninggalkanku saudara perempuan sebanyak tujuh orang. Maka dari itu aku menikahi seorang wanita yang sekaligus dapat menjadi pengasuh dan pembimbing mereka.” Kemudian Rasulullah berkata, “Engkau benar, insya Allah.”

Keteladanaan Para Sahabat Radhiyallahu 'Anhu.

Di antara para sahabat yang paling menonjol keteladanannya adalah Abu bakar As-Shiddiq r.a. Bukan hanya karena ia adalah satu-satunya sahabat yang mendapat gelar as-sihiddiq dan juga bukan hanya karena satu-satunya sahabat yang menemani Rasulullah saw. dalam perjalanaan hijrah ke Madinah. Tetapi lebih dari itu, karena Abu Bakar layak disebut sebagai murabbi hadzihil ummah sepeninggalnya Rasulullah saw.

Ketika dua pertiga Jazirah Arab ditimpa gerakan pemurtadan, dalam bentuk pembangkangan tidak mau membayar kewajiban zakat, Abu bakar tampil sebagai pelopor. Dengan ketegasan sebagai murabbi, Abu Bakar menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dengan memerangi mereka. Banyak para sahabat, termasuk Umar bin Khattab, masih beranggapan bahwa bukan itu jalan keluar untuk menghentikan gelombang kemurtadan. Abu Bakar langsung memberikan pelajaran kepada para sahabat khususnya Umar dengan kalimat, “Hatta anta, ya Umar, ajabbaarun fil jahiliyah hhawwarun fil Islam? Wallaahi, laa yanqushuddinu wa anaa hayyun, lau mana’uuni ‘uqqaalu ba’iirin yuadduunahi ila Rasuulillah lahaarabtuhu hatta tansalifa saalifaty, sampai engaku juga, Ya Umar. Apakaah engkau hanya tampak perkasa pada masa jahiliyah kemudian jadi ragu pada masa Islam? Demi Allah, tidak akan berkurang agama ini (Islam) sedikitpun selama aku masih hidup, walaupun mereka tidak memberikan hanya seutas tali onta yang harus diberikan kepada Rasulullah, maka tetap akan ku perangi mereka sampaai urat leherku terputus.”

Keteladanan Ulama Salafusshalih

Salah satu di antara mereka adalah Atho bin Abi Rabaah rahimahullah. Beliau memimpin halaaqah (kelompok pengajian) besar di Masjidil Haram semasa Sulaiman bin Abdil Malik menjadi Khalifah. Khalifah sering menghadiri halaqah Atho bin Abi Rabah. Padahal Atho adalah seorang habsyi (negro asal Ethiopia) yang pernah menjadi budak seorang wanita penduduk Kota Mekkah. Atho dimerdekakan karena kepandaiannya dalam mendalami ajaran Islam.

Kapabilitas takwiniyah (kemampuan membentuk pribadi mutarabbi) Atha bin Abi Rabaah dalam mentarbiyah bukan hanya kepada kalangan pembesar dan terpelajar, tapi sampai seorang tukang cukur. Ini sebagaimana dikisahkan oleh Imam Abu hanifah. “Aku melakukan kesalahan dalam lima hal tentang manasik haji, lalu aku diajarkan oleh seorang tukang cukur, yaitu ketika aku ingin selesai dari ihram. Aku mendatangi salah seorang tukang cukur, lalu aku berkata kepadaanya, berapa harganya? “Semoga Allah menunjukimu. Ibadah tidak mensyaratkan soal harga. Duduk sajalah dulu. Soal harga gampang,” jawab tukang cukur. Waktu itu aku duduk tidak menghadap kiblat, lantas ia mengarahkan dudukku hingga menghadap kiblat. Kemudian menunjukkan bagian kiri kepalaku, lalu ia memutarnya sehingga mulai mencukur kepalaku dari sebelah kanan.

Ketika aku dicukur, ia melihatku diam saja. Lalu ia menegurku, “Kenapa koq diam saja? Ayo perbanyaklah takbir.” Maka aku pun bertakbir. Setelah selesai, aku hendak langsung pergi. Lalu ia berkata, “Mau kemana kamu?” “Aku mau ke kendaraanku,” jawabku. Tukang cukur itu mencegahku seraya berkata, “Shalat dulu dua rakaat, baru kau boleh pergi kemana kau suka.” Aku berkata dalam hati, tidak mungkin tukang cukur bisa seperti ini kalau bukan dia orang alim. Lalu aku berkata kepadanya, “Dari mana engkau dapati mengenai beberapa manasik yang kau perintahkan kepadaku?” “Demi Allah, aku melihat Atho bin Abi Rabaah mempratekkan hal itu, lalu aku mengikutinya, dan aku arahkan orang banyak untuk belajar kepadanya,” jawab tukang cukur alim tersebut.

Suatu ketika Imam Abu Hanifah melihat salah seorang mutarabbinya berpakaian lusuh sehingga terkesan tidak enak dipandang. Setelah murid-murid yang lain keluar dari majelis, sehingga tidak ada seorangpun di dalam majelis itu selain Imam Abu Hanifah dengan mutarabbinya tersebut, beliau berkata kepadanya, “Angkatlah sajadah ini lalu ambil sesuatu yang ada di bawahnya.” Setelah diambilnya ternyata uang sebanyak seribu dirham. “Ambilah uang itu dan perbaikilah penampilanmu,” tegas Imam Abu Hanifah. Lalu kata orang itu, “Aku sudah cukup. Allah telah melimpahkan nikmatnya kepadaku. Aku tidak membutuhkan uang ini.” Dengan cerdasnya Imam Abu Hanifah menyanggah omongan mutarabbinya itu, “Jika memang benar-benar telah melimpahkan nikmatnya kepadamu, lalu mana bukti kenikmatan-Nya itu? Bukankah Rasulullah saw. bersabda, ‘Innallaha yuhibbu an yaraa aaatsara ni’matihi ‘ala ‘abdihi, sesungguhnya Allah swt. senang melihat bukti kenikmatan yang diberi-Nya terlihat pada hamba-Nya? Karena itu, sudah sepantasnya engkau memperbaiki keadaanmu agar engkau tidak membuat sedih saudaramu.

Itulah beberapa keteladan yang dicontohkan oleh para pendidik ummat, yang tidak hanya pandai dalam bertutur kata, tetapi lebih dari pada itu ahlak dan keteladannya melebihi ucapan dan tutur kata mereka. Wallahul a’lam ( sumber : Dakwatuna.com)

 

Posted by: aini-mawaddah

Sudah tak tertanggung derita ini, derita ini terus meleraikan air mataku membasahi pipi..kekuatan diri kdg2 sudah tak terdaya utk menanggung pemberat ini..namun cintaMU Ya Allah ku dambakan.. Pasti ada hikmahnya kn? mmg sukar sekali utk meneruskan rantai perjuangan ini..kdg2 ku tersungkur, ku rebah..namun pimpinan cintaMU trus menanti, hinggakan aku kuatkan lgi ayunan langkahku...bait2 ayat cintaMU trus berlegar di benak fikiranku...itulah pengubat lara hatiku...aku tak dibiarkan bersendirian..Kalamullah mjadi peneman..Syukranlillah...insyaAllah aku akn trus mara dan trus mara walau mehnah melanda...ditentang, dihina, dimarah itulah menjadi sumber kekuatan aku utk trus tegar berdiri di jalan ini..dearest sahabat, sungguh apa yg kulakukan adalah demi kesejahteraanmu.,aku tidak sanggup melihat dirimu trus hanyut di dunia fatamorgana ini...demi cintaku padamu sahabat, aku telah dimarahi...demi cintaku padamu sahabt aku telah dituduh mcm2...demi cintaku padaMU YA ALLAH, aku akn trus meniti dan meneruskan perjuangan ku di jalan ini...fastaqim kama umirta

Futurkah kita?  

Posted by: aini-mawaddah


Cuba kita renungkan beberapa situasi di bawah :

1) Seorang sahabat mengirim mesej mengajak kita ke suatu ceramah agama atau penyampaian tazkirah, namun kita tidak mengendahkannya kerana malas ataupun dirasakan tidak penting. peliknya, kita lebih suka hadiri gathering ataupun perjumpaan yang duduk sembang-sembang,ketawa-ketawa. Lebih-lebih lagi bila berikhtilat lelaki dan perempuan.

2) Kita diajak untuk bersama-sama qiamullail berjemaah di masjid. Namun kita berasa teramat berat dan memilih untuk bersedap-sedap di atas katil.

3) Kita diajak untuk menyertai usrah dan kita beralasan dengan banyak komitmen lain seperti study atau ‘bisnes’ yang konon menguntungkan kita.

4) Seorang sahabat mengajak kita berpuasa esok namun kita beralasan nanti sakit perut dan susah hendak study. Tetapi sebenarnya, hati ini terlalu taksub hendak makan.

5) Jika dahulu kitalah yang mengimarahkan surau dan masjid, tetapi sekarang hendak berdiri dalam satu saf untuk berjemaah sudah terasa liat untuk melakukannya. Apatahlagi suka-suka pula solat dihujung-hujung waktu kerana dapat terus tunggu waktu solat yang seterusnya

6) Jika dahulu dalam sehari kita rajin membaca al-qur’an, paling kurang satu muka. Namun lama-lama kita sudah asyik dengan buku-buku sampingan, komik dan main games, itukan lebih menyeronokkan kita daripada menghadap al-qur’an.

7) Apabila orang menasihati kita atau bercakap sikit tentang bab agama, kita sudah berasa mual dan tidak enak. Kononnya tidak mahu jadi jumud sangat, biar Nampak selamba asalkan perkara yang wajib dalam agama kita masih buat. Sudah yakinkah dengan hanya amalan wajib kita dapat masuk syurga Allah?

8) Kehidupan kita semakin tidak terurus dan menjadi lagha. Terlalu banyak ketawa dan senda gurau yang berlebihan . jarang sekali kita mengeluarkan kata-kata yang bermanfaat.

9) apabila kita dirisik cinta si dia, kita mula menjadi lemah kerana melayan si dia. Tidak kiralah mesej mahupun telefon. Hingga nikmat ukhuwah dengan sahabat sendiri terasa pahit tetapi ukwah dengan si dia kita labelkan inilah ukhwah fillah. Cinta islamik ini saudara.

10) Kita sudah mula berasa malas dan tidak serius dalam pelajaran. Tutorial dan assignment sering diambil remeh dan hati terasa berat untuk mengulangkaji pelajaran. Kemudian,sudah mula berfikir bagaimana dapat ponteng kelas.

KEMBALILAH SAHABAT..

Kita bukanlah malaikat yang sentiasa tetap level imannya. Saya juga pernah goyah dengan ujian-ujian dunia. Namun, jika kita terus memilih untuk terus futur dan tidak mahu berubah, tiada siapa yang dapat membantu diri kita lagi.

saya percaya, antara kita ada yang mula bersa insaf dan ingin kembali kepada jalan tarbiyyah. Namun, kita masih gagal kerana hati mula mengeras. Cahaya iman sudah tidak lut untuk menembusi hati. Ada penawarnya sahabat! Korbanlah! Korbanlah! Korbanlah segala kehendak hati yang banyaknya dihasut syaitan. Ambillah suatu waktu yang hening, sujudlah dan dakaplah Al-Qur’an ke dada dan bacalah Al-Qur’an dengan namaNya. Sesungguhnya

“selangkah kita mendekati Allah, seribu langkah Allah mendekati kita”
Marilah kita mula melangkah kepadaNya!

Maafkanlah mereka...  

Posted by: aini-mawaddah

Bismillah walhamdulillah..di keheningan pagi ini, setelah dibaca kisah perang tabuk n buku fiqih dakwah yg berbaki 30 helai lagi ini,tangan ini tiba2 merangkul sebuah buku yg tersergam indah di atas rakku.ika sebelum ini , azamku ingin habiskn buku fiqih dakwah, hari ini mataku terpaut pada buku karya Amru khalid ini..Dengan namaMU aku hidup....buku ini masih gagal ku khatamkan lgi...helaiannya ku buka dan mataku tertumpu pada satu cerita yg kdg2 boleh menitiskan air mata...terlintas pula ingin di share di blog kesayangan ini..hmm...

pernah tak diri kita ini marahkan seseorg? marah yg teramat? hinggakan kalau bleh nk trus putuskan hubungan yg terjalin...apabila seseorg tu wat salah kat kita , kite terus memarahi dia..yg paling teruk kalau kita maki dia..pernah tak situasi ini berlaku?...dan yg paling serius lagi, sejak peristiwa tu berlaku spai skarang kita tak maafkan dia malah tak bertegur sapa ngan dia....kalau pernah jom kita hayati kisah ini....

Nabi S.A.W bersabda, Akan ada dua orang lelaki dari umatku yg bersimpuh di bawah singgahsana Allah S.W.T ( Arsy) kelak di hari kiamat. Salah sorang dari mereka berkata , " Ya Tuhan, ambilkan hakku darinya , sebagai balasan atas kesewenangannya terhadap diriku!"

Alla S.W.T berfirman kepada lelaki yg berbuat sewenang wenang , " Berikan sesuatu sebagai balasan kesewenanganmu terhadapnya!"

" Bagaimana caranya , wahai Tuhan?", tanya si zalim

Tuhan berfirman , " Berikan padanya sebagian dari amal baikmu!"

Lelaki zalim berkata , " Wahai Tuhan , jika demikian, maka habislah kebaikanku."

Alah SWT berfirman kepada lelaki yg dizalimi , " Jika itu yg engkau kehendaki, maka habislah kebaikannya."

Lelaki yg dizalimi berkata " Wahai Tuhan, ambillah sebagian dosaku dan jadikan dosa itu sebagai tanggungannya!"

Allah SWT berfirman ," Tidakkah engkau menghendaki sesuatu yg lebih baik dari itu?"

"Apakah gerangan yg lebih baik itu, wahai Tuhan?" tanya lelaki yg dizalimi

Allah SWT berfirman, " Lihatlah istana itu!"

maka ia melihat sebuah istana indah nan megah di surga yg belum pernah ia lihat sebelumnya.

Lelaki itu bertanya ," Wahai Tuhan, istana siapakah itu? Istana Nabikah ata istana Syuhada' manakah ?"

Allah SWT berfirman, " Istana itu milik siapa saja yg sanggup membayar ."

Lelaki itu bertanya kembali ," Wahai Tuhan , siapakah kiranya yg sanggup menghargai istana itu?"

Allah SWT berfirman , " Engkau akan memilikinya."

" Bagaimana wahai Tuhan ?", ia bertanya

Allah SWT berfirman , " Dengan maaf yg engkau berikan kepada saudaramu yg berbuat sewenang wenang terhadapmu!"

Serta merta lelaki tu mengatakan , " Aku memaafkannya Ya Tuhan, aku memaafkannya!"

Allah SWT berfirman, " Genggamlah tangan saudaramu itu dan masuklah kalian ke syurga!"

Subhanallah....sahabat2...begitu sekali Allah mecinta maaf di kalangan para hambaNYA..Namn kita? terlalu sukar utk meminta maaf apatah lagi memberi maaf...btul kn...jadikanlah kisah tadi sebagai iktibar n sumber motivasi utk kita..Jika bgitu tinggi kurniaan Allah pada hambaNYA yg memberi kemaafan, adakah kita sudah sudi memaafkan semua org? Apakah anda akan memaafkan org yg telah mnyakiti hati anda?

YA ALLAH.. sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai maaf , maka ampunilah kami!"

Katakanlah pada Allah SWT, " Ya Tuhan , aku bersaksi bahawa sesungguhnya Engkau Maha Pemurah, Engkau Maha Agung dan Engkau Maha Pemaaf. Aku adalah hamba-MU yg lemah , tetapi aku telah memaafkan org , maka maafkanlah hamba-MU yg fakir ini"!

Berbahagialah yang Syahid  

Posted by: aini-mawaddah

ولا تحسبن الذين قتلوا في سبيل الله أمواتا بل أحياء عند ربهم يرزقون .

Maksudnya : Janganlah kamu mengira bahawa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, sedangkan mereka itu tetap hidup di sisi Tuhan mereka dengan diberi rezeki.

(Ali Imran : 169-170)

.

Sungguh berbahagia yang syahid,

Martabatnya sungguh mulia,

Matinya sungguh bermakna,

Imannya sungguh luar biasa…

Jangan disangaka mereka mati;

Namun mereka tetap hidup,

Hidup bersama semangat dan teladannya,

Yang disusul jundullah lainnya,

Semangat Jundullah akan terus membakar citanya ,

Sehingga syahid menjelma..

Syahid....

Hanya mereka yang terpilih meraihnya,

Hanya mereka yang berkorban perolehnya,

Hanya mereka yang ikhlas bersamanya,

Semoga kita jua kan bersama dengannya... ......



Know your medicine

Detik yg kian Berlalu